My Blog


Jumat, 04 Mei 2012

Pertemuan ke – 9 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

Nama              : Ani Puji Lestari
Kelas               : 1EB07
Npm                : 20211909
Fak / Jurusan   : Ekonomi / Akuntansi


Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara adalah suatu daftar atau penjelasan terperinci mengenai penerimaan dan pengeluaran Negara untuk suatu jangka waktu tertentu biasanya satu tahun.
Tujuan APBN adalah untuk memelihara stabilitas ekonomi dan mencegah terjadinya anggaran yang defisit.
1.      Perkembangan Dana Pembangunan Indonesia
Dari segi perencanaan pembangunan di Indonesia, APBN adalah merupakan konsep perencanaan pembangunan yang memiliki jangka pendek, karena itulah APBN selalu disusun setiap tahun.
Seperti namanya, maka secara garis besar APBN dari pos-pos seperti dibawah ini :
o   Dari sisi penerimaan, terdiri atas pos penerimaan dalam negeri dan penerimaan pembangunan.
o   Sedangkan dari sisi pengeluaran terdiri dari pos pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.
Adapun resiko jika kekurangan dana ditutupi dengan pinjaman luar negeri adalah adanya kewajiban mengembalikan pinjaman tersebut berikut bunganya, hal ini akan semakin ringan jika sifat pinjamannya adalah lunak dan jangka waktunya cukup panjang. Namun perlu diingat bahwa besarnya oinjaman tersebut dalam mata uang kita sangat dipengaruhi oleh konjungtor perekonomian dunia (kurs mata uang dolar terutama).
Langkah pemerintah untuk memperbaiki keadaan anggaran pembangunan tersebut antara lain dengan menerapkan prinsip anggaran yang berimbang dan dinamis. Berimbang dalam arti pemerintah berusaha bahwa pengeluaran pemerintah akan selalu disesuaikan dengan penerimaannya. Sedangkan dinamis diartikan bahwa akan selalu diusahakan adanya peningkatan yang terus menerus terhadap penerimaan negara sesuai dengan peningkatan kegiatan pembangunan di Indonesia.
Langkah lainnya adalah dengan selalu bertumpu pada TRILOGI PEMBANGUNAN dalam setiap perencanaan pembangunan yang akan dilakukan.

2.      Proses Penyusunan Anggaran
Tahap penyusunan APBN dilakukan dengan menggunakan sistem Akuntansi yang sudah disesuaikan untuk menghassilkan dokumentasi pencatatan sebagai laporan pelaksanaan APBN oleh eksekutif, baik berupa laporan triwulan maupun laporan tahunan sebagai laporan pertanggungjawaban kepada DPR. Informasi ini bersifat terbuka, dan dapat dipergunakan sebagai alat kontrol alokasi keuangan negara dan mengecek kesesuaian alokasi dengan rencana, tujuan, dan sasaran.

3.      Perkiraan Penerimaan Negara
Secara garis besar sumber penerimaan negara berasal dari :
a.       Penerimaan dalam negeri,
b.      Penerimaan pembangunan
Meskipun telah ditempuh berbagai upaya untuk meningkatkan tabungan pemerintah, namun karena laju pembangunan yang demikian cepat, maka dana tersebut masih perlu dilengkapi dengan tunjangan yang berasal dari luar negeri. Meskipun untuk selanjutnya bantuan luar negeri (hutang bagi Indonesia) tersebut makin meningkat jumlahnya, namun selalu diupayakan suatu mekanisme pemanfaatan dengan prioritas sektor-sektor yang lebih produktif. Dengan demikian bantuan luar negeri tersebut dapat dikelola dengan baik (terutama dalam hal pengembalian cicilan pokok dan bunganya).

4.      Perkiraan Pengeluaran Negara
Secara garis besar, pengeluaran negara dikelompokkan menjadi dua yakni :
a.       Pengeluaran rutin, dan
b.      Pengeluaran pembangunan.

a)      Pengeluaran Rutin Negara
Pengeluaran rutin negara adalah pengeluaran yang dapat dikatakan selalu ada dan telah terencana secara rutin, diantaranya :
1)      Pengeluaran untuk belanja pegawai
2)      Pengeluaran untuk belanja barang
3)      Pengeluaran untuk subsidi daerah otonom
4)      Pengeluaran untuk membayar bunga dan cicilan hutang

b)      Pengeluaran Pembangunan
Secara garis besar, yang termasuk dalam pengeluaran pembangunan diantaranya adalah :
1)    Pengeluaran pembangunan untuk berbagai departemen/lembaga negara, diantaranya untuk membiayai proyek-proyek pembangunan sektoral yang menjadi tanggung jawab masing-masing departemen/lembaga negara bersangkutan.
2)      Pengeluaran pembangunan untuk anggaran pembangunan daerah (Dati I dan II).
3)      Pengeluaran Pembangunan lainnya.

5.      Dasar Perhitungan Perkiraan Penerimaan Negara
Untuk memperoleh hasil perkiraan penerimaan negara, ada beberapa hal pokok yang harus diperhatikan. Hal-hal tersebut adalah :
1.      Penerimaan dalam negeri dari MIGAS
Faktor-faktor yang mempertimbangkan adalah :
a.       Produksi minyak rata-rata per hari
b.      Harga rata-rata ekspor minyak mentah

2.      Penerimaan dalam negeri di luar MIGRAS
Faktor-faktor yang dipertimbangkan adalah :
a.       Pajak penghasilan
b.      Pajak pertmabhan nilai
c.       Bea masuk
d.      Cukai
e.       Pajak ekspor
f.       Pajak bumi dan bangunan
g.      Bea materai
h.      Pajak lainnya
i.        Penerimaan bukan pajak
j.        Penerimaan dari hasil penjualan BBM

3.      Penerimaan Pembangunan
Terdiri dari penerimaan bantuan program dan bantuan proyek.

Resensi :
Ø  Aries Budi S., 1996, Buku Paket Perekonomian Indonesia, Universitas Gunadarma, Jakarta.

Pertemuan ke – 5 & 6 Struktur Produksi, Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan


Nama              : Ani Puji Lestari
Kelas               : 1EB07
Npm                : 20211909
Fak / Jurusan   : Ekonomi / Akuntansi

1.      Struktur produksi
Proses produksi antara beberapa pekerjaan sampai menjadi produk akhir atau produk jadi yang ditunjukkan dengan skema. Struktur produksi nasional bisa dilihat di lapangan usaha dan hasil produksi kegiatan ekonomi nasional. Berdasarkan lapangan usaha struktur produksi nasional terdiri dari sebelas lapangan usaha dan berdasarkan hasil produksi nasional terdiri dari 3 sektor, yakni sektor primer, sekunder, dan tersier.
Perubahan struktur produksi dapat terjadi karena :
1)  Sifat manusia dalam perilaku konsumsinya yang berubah dari konsumsi barang pertanian menuju konsumsi barang-barang industri.
2)      Perubahan teknologi yang terus-menerus.
3)      Semakin meningkatnya keuntungan komparatif dalam memproduksi barang-barang industri.

2.      Pendapatan Nasional
a.      Pengertian Pendapatan Nasional
Pendapatan Nasional dapat diartikan sebagai suatu angka atau nilai yang menggambarkan seluruh produksi, pengeluaran, ataupun pendapatan yang dihasilkan dari semua pelaku/sektor ekonomi dari suatu negara dalam kurun waktu tertentu.

b.      Cara Perhitungan Pendapatan Nasional Dengan Pendekatan Nasional (GDP)
Menurut pendekatan ini, pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai lapangan usaha (sektor) dalam suatu negara selama satu tahun. Contoh, untuk memproduksi kemeja harus diproduksi lebih dahulu kain, benang, dan kapas. Kemeja dibuat dari kain, kain dibuat dari benang, dan benang dibuat dari kapas. Jika akan menjumlahkan nilai akhir (harga dikalikan dengan volume yang diproduksi) dari kemeja, kain, benang, dan kapas, maka akan timbul apa yang dinamakan perhitungan ganda (double counting). Hal ini terjadi karena, dalam nilai akhir kemeja sudah terkandung nilai akhir benang, dan dalam nilai benang terdapat nilai akhir dari kapas. Begitu seterusnya. Sehingga, untuk memperoleh total produk yang dihasilkan suatu negara, harus digunakan nilai tambah (value added). Secara sistematis, pendekatan produksi dapat ditulis dengan :
n
NI = å VAi
I=1
Dimana :
NI : national income (pendapatan nasional)
VA : value added (nilai tambah)
n   : jumlah sektor dalam perekonomian

Contoh perhitungan nilai tambah :
Jenis Barang
Harga
Nilai Tambah
Kapas
Rp.   5.000.000
Rp.   5.000.000
Benang
Rp.   7.500.000
Rp.   2.500.000
Kain
Rp. 12.500.000
Rp.   5.000.000
Kemeja
Rp. 20.000.000
Rp.   7.500.000

Rp  45.000.000
Rp. 20.000.000

Menurut tabel, sumbangan empat jenis barang tersebut bagi pendapatan nasional adalah jumlah seluruh nilai tambah, yakni Rp. 20.000.000 dan bukan Rp. 45.000.000.
Perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan produksi sangat terkait dengan dua konsep produksi nasional, yaitu Gross Dosmetic Product (GDP) dan Gross National Product (GNP). Perbedaan keduanya terletak pada sudut pandang pihak yang melakukan produksi.
GDP dapat lebih besar atau lebih kecil dari pada GNP. Jika GDP suatu negara lebih besar dari GNP-nya, maka penanaman modal asing (PMA atau investasi asing) di negara itu lebih besar daripada penanaman modal negara itu di luar negeri. Kondisi ini terjadi pada negara-negara yang sudah berkembang. Selisih GDP dengan GNP disebut Net Factor Payment atau Net-Factor Income to Abroad. Net Factor payment ini adalah jumlah neto dari pendapatan orang asing di dalam negeri dikurangi dengan pendapatan warga negara sendiri di luar negeri. Jadi, dapat dikatakan pula bahwa GNP adalah GDP dikurangi Net Factor Payment.

c.       Cara Penghitungan Pendapatan Nasional dengan Pendekatan Pengeluaran (GNP)
Menurut pendekatan ini, pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi di suatu negara dalam satu tahun. Pengeluaran yang dijumlahkan itu terdiri atas :
1)   Pengeluaran konsumsi perorangan dari rumah tangga (personal consumption expenditure), berupa pengeluaran untuk pembelian barang dan jasa untuk pemenuhan kebutuhan saat ini.
2)   Investasi domestik bruto, berupa : bangunan-bangunan baru, alat-alat produksi yang tahan lama, dan persediaan barang-barang oleh perusahaan. Termasuk pula di dalamnya adalah investasi yang dilakukan oleh pemerintah, seperti membangun jembatan jalan, dan jaringan irigasi. Dalam konteks Indonesia, investasi ini sering disebut dengan Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto.
3)    Pengeluaran konsumsi pemerintah (government expenditure) yang terlihat dalam pengeluaran rutin pemerintah, seperti membayar gaji pegawai negeri dan membeli peralatan kantor.
4)    Ekspor neto, yaitu selisih antara ekspor dengan impor. Ekspor merupakan sejumlah barang dan jasa dalam negeri yang dibeli oleh pihak luar negeri sehingga menambah pendapatan nasional. Sementara Impor merupakan sejumlah barang dan jasa luar negeri yang dibeli oleh pihak dalam negeri. Pada perhitungan pendapatan nasional, impor merupakan faktor pengurang penghitungan. Karena, produksi barang impor dilakukan di Luar negeri sehingga tidak masuk dalam Pendapatan Nasional.

Secara sistematis, penghitungan pendekatan pengeluaran dapat ditulis sebagai berikut:

NI = C + I + G + ( X-M )

Dimana :
NI  : National Income (Pendapatan Nasional)
C    : Consumption (Konsumsi Rumah Tangga)
I     : Investment (Investasi)
G   : Government Expenditure (Pengeluaran Pemerintah)
X   : Export
M   : Import

d.      Cara Penghitungan Pendapatan Nasional dengan Pendekatan Pendapatan (NI)
Menurut pendekatan ini, pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan seluruh pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa yang diproduksi di suatu negara selama satu tahun. Faktor-faktor produksi seperti tanah, modal, tenaga, dan wiraswasta (entrepreneur) yang digunakan dalam proses produksi diberikan balas jasa berupa sewa, bunga, upah atau gaji, dan laba. Karena faktor-faktor produksi tersebut dimiliki oleh seorang atau sekelompok orang dalam masyarakat, maka balas jasanya kembali pada masyarakat sebagai pendapatan nasional.
Pendapatan Nasional dengan pendekatan pendapatan dapat ditulis secara sistematis sebagai berikut :

NI = w + i + r + p

Dimana :
NI  : National Income (Pendapatan Nasional)
w   : Wage (Upah)
i     : Interest ( Bunga)
r     : Rent  (Sewa)
p    : Profit (Laba)

Pendapatan nasional yang dihitung dengan pendekatan pendapatan dikenal dengan sebutan Gross National Income (GNI). Jika GNI dikurangi dengan penyusutan barang-barang modal disebut Net National Income (NNI).

e.       Pendapatan Nasional yang Siap Dibelanjakan ( Y disposible)
Pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable Income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak. Contohnya seperti, Pajak Pendapatan.

f.        Pendapatan Nasional Per Kapita
Pendapatan rata-rata penduduk suatu negara pada suatu periode tertentu, yang biasanya satu tahun. Pendapatan Per Kapita bisa juga diartikan sebagai jumlah dari nilai barang dan jasa rata-rata yang tersedia bagi setiap penduduk suatu negara pada suatu periode tertentu. Pendapatan per kapita diperoleh dari pendapatan nasional pada tahun tertentu dibagi dengan jumlah penduduk suatu negara pada tahun tersebut.
Konsep pendapatan nasional yang bisa dipakai dalam menghitung pendapatan per kapita pada umumnya adalah Pendapatan Dosmetik Bruto (PDB) atau Produk Nasional Bruto (PNB). Dengan demikian pendapatan per kapita dari suatu negara dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

1)    PDB per kapita  =  PDB tahun t
     Jumlah penduduk pada tahun t

2)    PNB per kapita  =  PNB tahun t
Jumlah penduduk pada tahun t

Contoh :
Negara x pada tahun 1 memilik produk domestik bruto sebesar US $100.000.000 dan jumlah penduduk sebanyak 2.500.000 jiwa. Berapa pendapatan per kapita negara x pada tahun t ?
Jawab :
PNB perkapita negara x pada tahun t adalah :
US $100.000.000,00 = US $40,00
2.500.000

3.      Distribusi Pendapatan Nasional dan Kemiskinan
Telah dikemukakan bahwa tingkat kemakmuran suatu bangsa berhubungan erat dengan pendapatan per kapita dari negara yang bersangkutan. Semakin tinggi pendapatan per kapita, semakin makmur suatu bangsa. Namun, tingginya pendapatan per kapita tidak menjamin bahwa seluruh masyarakat telah menikmati kemakmuran. Misalnya, dengan meningkatnya pendapatan per kapita, kita tetap tidak mengetahui apakah keadaan sebagian besar warga miskin telah membaik atau tidak. Pendapatan per kapita hanya merupakan gambaran secara umum dari kesejahteraan penduduk suatu negara.
Struktur distribusi pendapatan nasional akan menentukan bagaimana pendapatan nasional yang tinggi mampu menciptakan perubahan dan perbaikan dalam masyarakat, seperti mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan kesulitan lain dalam masyarakat. Distribusi pendapatan nasional yang tidak merata tidak akan menciptakan kemakmuran bagi masyarakat secara umum.
Salah satu masalah yang cukup mendesak untuk diatasi oleh suatu negara adalah masalah kemiskinan. Untuk itulah ekonomi Indonesia memiliki Trilogi Pembangunan yang didalamnya ada poin pemerataan. Meskipun sampai dengan saat ini rakyat yang masih hidup dalam kemiskinan masih cukup besar (+/- dari 100 orang Indonesia, 11-12 orang diantaranya masih miskin), namun upaya untuk membantu mereka terus diupayakan. Beberapa diantaranya adalah dengan program IDT (Inpres Desa Tertinggal) dan kemitraan pengusaha besar dan pengusaha kecil yang dicanangkan oleh Pemerintah.


Resensi :
Ø  Ritonga, T, M, dkk. 2007. “Ekonomi Untuk SMA/MA Kelas X”. Jakarta:PHIBETA.
Ø  Aries Budi S., 1996, Buku Paket Perekonomian Indonesia, Universitas Gunadarma, Jakarta


Jumat, 06 April 2012

Pertemuan ke – 4 Peta perekonomian Indonesia

Nama              : Ani Puji Lestari
Kelas               : 1EB07
Npm                : 20211909
Fak / Jurusan : Ekonomi / Akuntansi

1.      Keadaan Geografis Indonesia
·         Indonesia merupakan negara kepulauan. Pulau-pulaunya membentang dari sabang sampai merauke. Pulau-pula besarnya meliputi Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian, dan Pulau Jawa.
a.       Letak Astronomis
Letak astronomis suatu negara ialah letak suatu negara didasarkan pada posisinya terhadap garis lintang dan garis bujur. Berdasarkan letak astronomisnya, Indonesia terletak antara 6o LU dan 11o LS, 95o BT dan 141o BT. Lebar lintang wilayah Indonesia adalah 17o atau kurang lebih 1.887 KM. Lebar ini terbentang dari ujung utara, yaitu pulau We, yang dilalui 6o LU sampai ujung paling Selatan, yaitu Pulau Roti, yang dilalui oleh garis 11o LS. Panjang bujurnya adalah 46o atau kurang lebih 5.110 KM. Panjang ini terbentang dari ujung paling barat, yaitu Pulau Breuueh, yang dilalui oleh garis 95o BT sampai ujung Timur, yaitu Kota Merauke, yang dilalui oleh garis 141o BT.
b.      Letak Geografis
Letak geografis adalah letak suatu negara berdasarkan posisi sebenarnya dipermukaan bumi. Secara geofrafis wilayah Indonesia terletak pada posisi silang antara dua benua dan dua samudera, yaitu antara Benua Asia dengan Benua Australia dan antara Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik. Kepulauan Indonesia terletak di kawasan Asia Tenggara dan sebagian besar berada di belahan bumi Selatan.
·         Negara Indonesia berada di antara dua benua dan dua samudera, hal ini sangat berpengaruh terhadap iklim di Negara Indonesia. Negara Indonesia memiliki iklim musim yang bergantian setiap 6 bulan sekali yang disebabkan karena adanya hembusan dua macam angin musim.
a.       Angin Musim Barat Laut
Pada waktu Benua Asia mengalami musim dingin yaitu pada bulan Oktober sampai Maret, di Indonesia bertiup angin Musim Barat Laut. Angin ini membawa uap air yang banyak dari Samudera Hindia. Uap air ini akan mengembun dan jatuh sebagai hujan di indonesia. Maka di Indonesia berlangsung Musim Hujan.
b.      Angin Musim Timur
Pada waktu Benua Australia mengalami angin musim dingin sekitar bulang April sampai September, di Indonesia bertiup angin musim Tenggara yang berasal dari benua Australia. Angin tersebut hanya melalui lautan yang sempit, sehingga tidak banyak membawa uap air. Akibatnya di Indonesia berlangsung musim kering atau musim kemarau. Dengan demikian Indonesia mengalami musim hujan dan musim kemarau bergantian setiap setengah tahun. Keadaan ini semacam ini disebut Iklim Musim.
Peralihan musim penghujan ke musim kemarau disebut musim mareng. Sebaliknya, peralihan musim kemarau ke musim penghujan disebut musim labuh.

Sumber Pertambangan di Indonesia
Nomer
Hasil Tambang
Daerah
1
Batubara
1.      Padang
2.      Pangkalanbrandan
3.      Palembang
4.      Bandar Lampung, dll.
2
Tembaga
1.      Gorontalo
2.      Tembagapura
3
Timah Putih
1.      P.Belitung
2.      P.Bangka
3.      P. Singkep
4
Pengeboran Minyak
1.      Banda Aceh
2.      Pekanbaru
3.      Palembang, dll.
5
Bauksit
-
6
Nikel
1.      Kendari
2.      Samako
3.      Palu
7
Intan
1.      Martapura
8
Aspal
1.      Kendari
9
Aluminium
1.      Ujungpandang
10
Marmer
1.      Surabays
11
Mangan
1.      Tasikmalaya
2.      Kulonprogo
12
Pasir Besi
1.      Sukabumi
13
Emas dan Perak
1.      Bengkulu
2.      Palu
3.      Gorontalo


2.      Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk adalah suatu pekerjaan penduduk yang menghasilkan barang dan jasauntuk kelangsungan hidupnya. Negara Indonesia merupakan negara agraris. Kurang lebih 70% penduduk Negara Indonesia bermata pencaharian di bidang pertanian. Pertanian memegang peranan yang cukup penting dalam perekonomian Indonesia. Bentuk-bentuk kegiatan pertania nmeliputi :
1)      Pertanian Sawah
Jenis pertanian ini biasanya dilakukan oleh masyarakat di daerah-daerah yang mempunyai cadangan air yang cukup banyak. Sebagian besar jenis pertanian ini dilakukan di daerah dataran rendah. Pertanian sawah dibedakan menjadi empat macam, yaitu :
a.       Sawah Tadah Hujan, Jenis pertanian yang pengairannya bergantung pada irigasi air hujan. Sistem pertanian ini menghasilkan satu kali panen dalam satu tahun.
b.      Sawah Irigasi, Jenis pertanian sawah yang pengairannya menggunakan sistem pengairan yang teratur, hasil panennya dapat dipetik dalam satu tahun, dua, atau kali panen.
c.       Sawah Pasang Surut, Jenis pertanian ini banyak dijumpai di muara-muara sungai besar yang dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut. Jenis pertanian ini juga banyak dijumpai di daerah hutan bakau.
d.      Sawah Lebak, Jenis pertanian yang dilakukan di sepanjang aliran sungai-sungai besar. Padi hanya ditanam pada musim kemarau saja.
e.       Pertanian Ladang Berpindah, pertanian yang dilakukan dengan cara berpindah-pindah dari lahan yang satu ke lahan yang lainnya. Sistem pertanian ini biasanya dilakukan dengan cara membuka hutan yang kemudian pohon-pohinnya dibakar.sistem pertanian lading berpindah sudah mulai dilarang oleh pemerintah, hal ini disebabkan karena banyak menimbulkan kerusakan lingkungan.
2)      Pertanian Kebun
Jenis pertanian dengan memanfaatkan halaman pekarangan di sekitar tempat tinggal. Pertanian kebun banyak dilakukan oleh penduduk di daerah tanah kering dan pegunungan.
Jenis tanaman yang diusahakan adalah buah-buahan, sayur-sayuran, bunga-bungaan, kelapa, kacanng-kacangan, dan tanaman hias.

3.      Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia adalah potensi yang dimiliki manusia ditinjau dari segi pendidikan, teknologi, kesehatan, dan jumlah secara missal. Indonesia memiliki jumlah penduduk cukup besar. Jumlah ini dapat menjadi potensi yang menguntungkan asalkan mutu sumber dayanya berhasil ditingkatkan.
Penduduk disetiap tempat tidak tetap karena kadang-kadang mengalami perubahan. Perubahan jumlah penduduk disebut dinamika penduduk. Perubahan yang selalu meningkat disebut pertumbuhan penduduk. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk adalah faktor demografi (kelahiran, kematian, dan migrasi) dan faktor nondemografi (kesehatan dan pendidikan).
Adapaun laju sistem pendidikan di Indonesia adalah :
No.
Pendidikan
1971
(%)
1980
(%)
1990
(%)
          1.
Belum Sekolah
73.7
55.8
37.5
2.
SD
19.6
55.8
37.5
3.
SLTP
4.4
8.3
12.9
4.
SLTA
2.0
5.9
11.8
5.
Akademik Univ.
0.4
0.8
1.9

Dari data diatas dapat dilihat bahwa rata-rata kenaikan jumlah peserta didik dari semua jenjang pendidikan belum memuaskan. Oleh karena itu, pemerintah saat ini mulai mendorong anggota masyarakat usia sekolah untuk mengikuti program Wajib belajar 9 tahun.

4.      Investasi
Sebagian besar persoalan melambatnya pertumbuhan produksi pertanian di Indonesia adalah karena penurunan investasi pemerintah dan swasta untuk pembangunan pertanian. Investasi sektor pertanian berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN), penanaman modal asing (PMA) dan pemerintah (APBN). Rata-rata laju persetujuan investasi sektor pertanian periode sebelum krisis (1994-1996) masih positif (34.5%). Pada periode setelah krisis (1997-2002) mengalami pertumbuhan negatif (-9.6%).  Secara keseluruhan, rata-rata  pertumbuhan persetujuan investasi selama periode 1994-2002 tumbuh sebesar 1.26%. Penurunan terlihat semakin nyata pada rata-rata realisasi laju investasi sektor pertanian. Penurunan tajam mulai terlihat pada periode mendekati krisis (1996) sebesar 61.3%. Sehingga rata-rata laju realisasi investasi pertanian periode 1990-an hingga periode 2000-an adalah -2.07%. Penurunan tersebut indikasinya disebabkan oleh besarnya faktor resiko dan ketidakpastian usaha di sektor pertanian (Herjanto, 2003).



Referensi :
1.      Drs. Hasan Budi Sulistyo, dkk. 2005. “Geografi Untuk SMP Kelas II”.  Jakarta:Erlangga.
2.      Perpustakaan.uns.ac.id/jurnal/index.php?act=view&id=1...